Bank Mandiri Ungkap Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Karena Berbagai Faktor, Mulai dari Suku Bunga hingga Penundaan Ekspansi Bisnis

  • Windy Anggraina
  • Rabu, 21 Januari 2026 | 11:05 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id – Meski penyaluran kredit berjalan baik tapi ada beberapa faktor yang masih dinilai menghambat laju pertumbuhan kredit yang membuat ekonomi melambat. Likuiditas perbankan yang membaik belum bisa jadi tolak ukur peningkatan kredit usaha,

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan pelaku usaha masih bersikap wait and see akibat ketidakpastian ekonomi global maupun domestik. Selain itu, porsi kredit yang telah disetujui namun belum dicairkan (undisbursed loan) masih tinggi di kisaran 25–29 persen.

Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang, Ini Daya Tampung dan Kurikulum Pembelajarannya

Menurut laporan Office of Chief Economist Bank Mandiri, kredit modal kerja, yang mendominasi 53 persen portofolio kredit, juga mengalami perlambatan karena pelaku usaha menunda ekspansi di tengah outlook ekonomi belum solid.

Di sisi lain, suku bunga kredit tidak turun secepat BI Rate, sehingga minat kredit tetap rendah.Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil turut membuat bank lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan dan lebih memilih debitur berisiko rendah.

Segmen UMKM juga masih mengalami tekanan sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan kredit dari sektor ini belum optimal.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa banyak perusahaan memilih melunasi pembiayaan internal dibanding mengajukan kredit baru.

Meski demikian, Andry optimistis prospek penyaluran kredit akan membaik. Ia menilai stabilitas geopolitik global, pelemahan dolar AS, serta pelonggaran moneter domestik diperkirakan akan mendukung arus modal dan permintaan kredit. Perbaikan belanja pemerintah dan inflasi yang tetap dalam target Bank Indonesia juga menjadi faktor pendorong daya beli dan kredit konsumsi.

“Memasuki 2026, arah kebijakan pemerintah sudah semakin terang. Sepanjang semester II 2025, kebijakan yang ditempuh terlihat jelas, sehingga memasuki 2026 sudah ada kejelasan,” kata Andry seperti dikutip Riwara.id dari laman mandiri.co.id, Selasa, 21 Januari 2026.

Ia berharap konsistensi kebijakan fiskal pemerintah sepanjang semester II 20 25 dapat menjadi dorongan bagi ekspansi kredit ke depan.

Data Bank Mandiri menunjukkan, pertumbuhan kredit Oktober 2025 melambat menjadi 7,36 persen year-on-year (dari 7,70 persen yoy), atau 4,96 persen year-to-date (ytd) lebih rendah dibandingkan 7,04 persen ytd pada periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Negara Akui Status Nasional Keraton Surakarta, LDA Tekankan Pentingnya Musyawarah dan Hukum

Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 11,48 persen secara tahunan, didorong oleh akses likuiditas dari sektor swasta dan insentif pemerintah dan BI. Likuiditas perbankan tetap stabil tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 84,26 persen.***

 

Meski penyaluran kredit berjalan baik tapi ada beberapa faktor yang masih dinilai menghambat laju pertumbuhan kredit yang membuat ekonomi melambat. Likuiditas perbankan yang membaik belum bisa jadi tolak ukur peningkatan kredit usaha

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News